Cukup dalam Bayangan
Cahaya datang silih berganti, bersamaan dengan rencana yang Tuhan persiapkan, bunga yang indah itu tampak bermekaran, dedaunan layu nan runtuh. Harapan datang mengetuk pintu, impian dipacu kesana kemari, riuh ucapan menyapa kalbu, dewasa raga, tangguhlah diri. Tanganku bergerak dalam diam, menyapu lelah, mengeras suram, namun dimatamu, aku tetaplah awan, hadirnya ada, tapi tak pernah dianggap sebagai kawan. Apapun yang ku kerjakan seperti angin lalu, seolah hanya debu yang menganggu, engkau merasa paling banyak berjuang, padahal ada sedikit punggungku yang menyelimuti namun tak terlukis. Aku ada, tapi selalu kau anggap tiada, Baktiku hanya kewajiban yang formalitas dimatamu, kapan ketulusan dan kejujuran hadir dan sampai dihatimu? bahwa manusia satu ini ingin dianggap cukup dimata yang ia selalu banggakan kepada orang lain. -Farah Fadhilah Aku ada, tapi dianggap tiada,...