Rumah Adalah Tempat Pulang Bukan Tempat Perang
Hai Rumah.
Bangunan yang kokoh, berwarna, dibangun oleh manusia.
Dengan rancangan yang digerakkan oleh tangan manusia.
Yang selalu aku gambar disetiap pelajaran sekolah dulu,
yang ku tahu rumah adalah tempat tinggal yang nyaman nan aman, tapi semakin berjalannya waktu arti rumah tak sebaik apa yang aku definisikan.
Rumah dengan nuansa yang indah, atap yang menyelimuti, tembok yang menyerap suara kebisingan.
Semakin berjalannya waktu, rumah tak bisa disebut rumah.
Nampak luar megah, tapi tersimpan banyak pertengkaran,
hangat dan ceria diluar, namun dingin dan tertutup didalamnya.
Aku yang kecil dulu membayangkan rumah selalu ada tawa, doa, ceria, hangat, dan tenang.
Kenyataannya tidak seperti itu, bangunan yang berdiri kokoh itu dapat berubah-ubah.
Berubah jadi tempat menyeramkan, menyedihkan, menyenangkan, apapun itu hasil ekspresi manusia.
Suara tinggi, bantahan, keras lebih sering didengar daripada suara sapaan lembut.
Inilah tempat yang menguatkan definisi bahwa "diam itu lebih bagus."
Bukankah tempat pulang itu rumah?
Bukankah tempat melepas penat dan menghapus luka itu ada di rumah?
Bukankah rumah itu tempat saling memeluk, bukan untuk saling berperang kan?
Hai Rumah..
Rumah seharusnya tempat berkembang.
Tempat menjadi diri sendiri.
Tempat meluapkan cerita sehari-hari.
Ku harap engkau tidak kehilangan arah dan membuang definisi rumah itu tempat pulang.
Kata "pulang" yang senantiasa ditunggu, tapi kini suatu hal yang dipikir dua kali untuk mendengarkan kata "pulang."
Mungkin suatu saat nanti, kata "pulang" akan menemukan jalannya sendiri dan berbenah. Diriku sendiri masih percaya bahwa pulang dan rumah akan kembali menjadi suatu hal yang indah dan aman.
Kita usahakan rumah itu yaa.
Farah Fadhilah.
Bangunan yang kokoh, berwarna, dibangun oleh manusia.
Dengan rancangan yang digerakkan oleh tangan manusia.
Yang selalu aku gambar disetiap pelajaran sekolah dulu,
yang ku tahu rumah adalah tempat tinggal yang nyaman nan aman, tapi semakin berjalannya waktu arti rumah tak sebaik apa yang aku definisikan.
Rumah dengan nuansa yang indah, atap yang menyelimuti, tembok yang menyerap suara kebisingan.
Semakin berjalannya waktu, rumah tak bisa disebut rumah.
Nampak luar megah, tapi tersimpan banyak pertengkaran,
hangat dan ceria diluar, namun dingin dan tertutup didalamnya.
Aku yang kecil dulu membayangkan rumah selalu ada tawa, doa, ceria, hangat, dan tenang.
Kenyataannya tidak seperti itu, bangunan yang berdiri kokoh itu dapat berubah-ubah.
Berubah jadi tempat menyeramkan, menyedihkan, menyenangkan, apapun itu hasil ekspresi manusia.
Suara tinggi, bantahan, keras lebih sering didengar daripada suara sapaan lembut.
Inilah tempat yang menguatkan definisi bahwa "diam itu lebih bagus."
Bukankah tempat pulang itu rumah?
Bukankah tempat melepas penat dan menghapus luka itu ada di rumah?
Bukankah rumah itu tempat saling memeluk, bukan untuk saling berperang kan?
Hai Rumah..
Rumah seharusnya tempat berkembang.
Tempat menjadi diri sendiri.
Tempat meluapkan cerita sehari-hari.
Ku harap engkau tidak kehilangan arah dan membuang definisi rumah itu tempat pulang.
Kata "pulang" yang senantiasa ditunggu, tapi kini suatu hal yang dipikir dua kali untuk mendengarkan kata "pulang."
Mungkin suatu saat nanti, kata "pulang" akan menemukan jalannya sendiri dan berbenah. Diriku sendiri masih percaya bahwa pulang dan rumah akan kembali menjadi suatu hal yang indah dan aman.
Kita usahakan rumah itu yaa.
Farah Fadhilah.
definisi rumah yg sangat indah dan menyentuh hati, diksi yg digunakan keren👏 good luckk
BalasHapus